Selasa, 24 April 2018

Cerpen 1 : Kenangan Bulan Januari

Wazaaaaappp... Apa kaabbss? Jadi, karena cerpen saya ini gagal juara disuatu perlombaan, akhirnya saya posting saja disini. Kayaknya memang ga jelas deh cerpennya :( yaudalah langsung aja. Semoga klean terhibur yaa!

Kenangan Bulan Januari

Tak terasa mentari sudah terbit di sebelah jendela usam itu. Ayam jago berjengger merah pun berkokok dengan suara yang lantang didalam sangkarnya. Ketika air dari langit mulai turun dalam bentuk embun membasahi dedaunan yang hijau. Gemersik ranting pohon beringin disebelah rumah Pak Jo pun terdengar hampa bak dihutan belantara. Rupanya jam dinding bulat berbackround logo Manchester United itu menunjukkan jarum pendeknya ke angka 7. “Oh My God! bakalan telat nih”. Aku bergegas mengambil kunci motor yang biasa tersimpan diatas kulkas. Mandi dan parfum pun tak ku sentuh. Jangankan mandi, cuci muka saja aku tak sempat. Hanya baju putih abu berdasi dan sepatu tanpa kaos kaki. “Sayang nanti jemput aku di lampu merah biasa ya”. Sebuah pesan singkat dari pacarku lewat Line. Ketika aku buka lagi, pesan itu dikirim pukul 06.30. Aku tak berpikir panjang. Langsung saja aku tangcap gas ke sekolah. Ternyata, semua siswa disana sedang menekuk tangannya tanda hormat ke bendera, sembari ada backsound khas hari Senin.
Hari ini semua yang datang terlambat batang hidungnya akan diperlihatkan dihadapan semua siswa, aku salah satunya. Ini bukan pertama kalinya aku berada diarah yang bersebrangan dengan siswa lain, karena aku adalah siswa langganan yang berdiri dibarisan yang berbeda. Masuk ke ruang BK adalah agenda rutin bulanan. Entah, dalam sebulan pasti aku mampir ke ruang BK. Semenjak masuk SMA Aku menjadi terkenal dikelas, bukan karena kecerdasanku, tapi karena kenakalanku. Bahkan namaku menjadi buah bibir para guru dikantor. Aku dan pacarkuu selalu berangkat dan pulang sekolah bersama, sambil menaiki motor Honda Klasik khas tahun 70-an. Aku memang suka barang-barang antik, termasuk motor. Semalam akupun begadang hanya demi membersihkan karbu, mengecat body motor, dan mengelas stang. Alhasil, esoknya aku terlambat. Huh, benar-benar hari yang sial.
Senin adalah hari yang menyeramkan bagiku. Ditambah ada Pak Jamal, Guru terkiller disekolah ini. Kepalanya berkilau, kacamata bulat dengan tebal hampir 1cm, serta balpoin yang selalu menempel disaku kanan adalah ciri khasnya. Beliau selalu menunjuk untuk menjawab pertanyaan kepada siapa saja yang nunduk tanda ngantuk. “Somad, apa perbedaan dari karnivora dan herbivora?” Tanya Pak Jamal kepadaku. Begitulah Pak Jamal, sering memanggil muridnya dengan nama lain. “Karnivora pemakan daging pak, herbivora pemakan tumbuhan”. Sebenarnya aku tau, hanya saja aku malas, jadilah mengantuk. Sekolahku bukanlah sekolah terbaik dikampung ini. Akupun masuk kesini karena nilai ketika SMP ku pas-pasan dan tak memadai untuk masuk ke SMA Favorit. Ketika aku baru masuk ke SMA ini, ibu menasehatiku dengan begitu dalam, “Ru, Mamak sekolahkan Aru disini agar jadi anak yang pintar. Dimanapun sekolahnya, kalo kita tidak semangat dan rajin, pastilah biasa saja. Aru sekarang jadi harapan Mamak. Bapak sudah meninggal, Mamak sudah renta, Aru punya tanggungan Nisa yang masih SD”. Pesan itu seolah masuk telingan kanan dan keluar telinga kiri. Dari kelas 1 sampai kelas 3 sekarang, kerjaanku hanya malas-malasan, pacaran, dan keluar masuk ruang BK. Memasuki persiapan ujian nasional, sekolahku mengadakan jam tambahan untuk kelas 3 sampai sore. Waktu itu bulan Mei, sedangkan Ujian Nasionalnya bulan Juli.
Malam itu, gerimis membasahi ranting-ranting pohon. Angin menyapa melalui sela-sela rumah, menyapu debu-debu. Kami bertiga dirumah saat itu sedang mengerjakan tugas masing-masing. Aku membersihkan motor yang terkena tetesan hujan, Nisa sedang asik dengan atlasnya yang baru dibeli, dan Mamak sedang melipat baju.  “Aru, kemari” Panggil Mamak. “Iya Mak”, aku duduk bersimpuh dihadapannya. “Mamak berpesan kepada Aru, cukuplah bermalas-malasannya. Mamak tidak mau Aru berhenti sampai SMA. Dulu, Bapak hanya tamatan SMP, sedangkan Mamak SD pun tidak lulus”. Nasehatnya dengan halus. Sedangkan aku hanya menunduk saja. “Sebentar lagi Ujian Nasional, ini adalah jalan penentu kelulusan dan pendidikan selanjutnya bagi Aru. Mamak ingin punya anak yang bisa membanggakan keluarga dan desa”. Tambah Mamak. Saat itu entah mengapa, batu dihati ini serasa meleleh seperti es terkena sinar. Aku yang tadinya sangat keras dan tidak penurut, mendadak berkacaka-kaca. “Ya Tuhan, mengapa aku baru sadar sekarang?” Gumamku dalam hati. “Iya Mak, maafkan Aru sudah jadi anak yang malas. Aru ingin kuliah dan sukses Mak”. Aku tak sanggup lagi, air mataku jatuh. Aku tak berani menatap wajah Mamak. Tangan lembutnya menyapa kepalaku, mengelusnya perlahan. “Gapapa nak, semuanya belum terlambat. Jangan menyerah untuk menjadi lebih baik”. Mamak mengambil wajahku, menghadapkan ke wajahnya, dan menghapus air mataku.
Besoknya, setelah kejadian mengharukan tadi malam, semacam ada petir yang menyambar hati ini. Semangatku melonjak, motivasiku naik drastis. Bahkan aku berangkat sekolah lebih pagi dari sebelumnya. Petang hari ku isi dengan membaca. Siang dan sorenya ku pakai untuk refreshing dan memancing. Aku habiskan malam-malamku dengan membaca buku paket pelajaran dan latihan mengerjakan soal serta persiapan untuk Ujian Nasional. Pak Jo, tetangga Mamak yang melihat aku lebih semangat dari sebelumnya, tiba-tiba memberiku sebuah buku yang amat sangat menambah motivasiku. “Motivasi hadir ketika semangat menyatu dengan doa”. Aku sangat suka kalimat dihalaman 65 dari buku itu. Semua dari buku ini menggambarkan menjadi manusia yang bermanfaat. Bahkan tak terasa hampir seharian aku membaca buku ini. Isinya aku hayati, nilainya aku amalkan, dan kandungannya seolah menyatu dengan darahku.
Masih dibulan yang sama, aku tinggalkan semua teman-teman yang mengajakku kepada keburukan. “Aru, kamukan tau kita hobi bolos saat jam kelas, kok kamu ga ke markas?”. Tanya Rudi kepadaku saat bertemu dikantin. “Maaf Rud, tapi ini sudah bukan saatnya untuk santai. Kita sudah kelas 3 bukan?” Jawabku dengan senyum. “Alah sudahlah Ru, jangan terlalu serius. Santai aja!”. Rudi menepuk pundakku. “Aku santai kok, santai menjalani proses menuju kebaikan”. Aku mengakhiri pembicaraan tersebut dan masuk ke kelas.
KRING KRIING….
Bel khas tanda pulang berbunyi. Seperti biasanya, Honda 70an itu menemani perjalanan pulangku dan pacarku. Waktu itu adalah bulan Januari akhir, hari dimana siswa SMA kembali dari masa liburannya. Hari ini aku sudah mantap ingin meninggalkan pacarku. Aku memutuskan untuk menyudahi hubungan ini. Aku rasa ini waktu yang tepat untuk berubah dan menjadi harapan Mamak. “Mut, aku ingin bicara sesuatu”. Ucapku diteras depan rumah Muti. “Iya Aru ada apa?”. Jawabnya. “Begini, apa pendapatmu tentang hubungan kita? Apa kamu tidak bosan dengan ku selama ini?”. Dahiku berkeringat, grogi.  “Ngomong apa kamu ini? kamu gapapa kan?”. Ia mengerutkan dahinya, bingung. “Aku.. ingin kita berhenti dari hubungan ini”. Ucapku terbata-bata. “Aku ingin belajar. Belajar mencintaimu dengan benar. Aku bosan menjadi seperti ini”. Tambahku. “Tapi kenapa kita harus putus?” Muti menatapku dengan dalam. “Seperti halnya lebah, ia hinggap ditempat yang baik dan mengambil sesuatu yang baik. Aku meninggalkanmu bukan tanpa alasan. Aku ingin memanfaatkan waktuku dengan baik. Tak apa, tinggalkan lah aku perlahan. Aku akan kembali kepadamu, jika Tuhan berkehendak. Biar jarak ini yang memisahkan kita, Biar sakit ini untuk sementara waktu, karena lukapun ada sembuhnya.” . Ketika aku mengucapkan itu, seketika Muti menjatuhkan darah putihnya, ia masuk ke dalam tanpa berkata apapun.
Dinginnya suasana pagi hari kembali menyapa. Namun entah mengapa, kelopak mata ini berat sekali untuk terangkat. Seperti mengangkat beban 1 ton. Bahkan lebih. Begitu aku teringat aku ingin kuliah, entah mantra magis apa yang membuat mata ini mau terbuka. Mencoba mengangkat beban 1 ton itu. Ternyata benar, otak akan sinkron ketika aku memikirkan hal-hal penting. Mamakpun sudah menyuruh aku untuk segera bangun. Jam berlogo Manchester United itupun menunjukkan pukul 5.50. Ini hari Senin, hari pertamaku UN. Langsung saja aku bergegas pergi ke kamar mandi. Sedangkan UN dimulai pukul 7.00. Waktu dari rumah ke sekolah sekitar 35 menit. Setelah sampai disekolah, aku bingung setengah mati. Sekolah masih sepi. Ada apa ini? Apakah ini hari minggu? Gumamku dalam hati. Aku masuk kelas, mempersiapkan alat tulis. Ternyata, jam dikelas baru menunjukkan pukul 06.00. Padahal di jam itu aku baru berangkat. Aneh.
Setelah melewati UN dihari pertama, aku bercerita kepada Mamak. “Mak, Aru bisa mengerjakan soal Ujian Nasional tadi. Soalnya hampir sama seperti yang Aru pelajari tadi malam.” Ceritaku. “Aru tidak terlambat kan?” Tanya Mamak. “Tidak, Mak. Justru tadi Aru orang yang pertama datang”. Tambahku. “Syukurlah, Mamak mempercepat jam dikamar Aru 30 menit” Ia berkata sambil tertawa. “Mamak ada-ada saja, Aru sampai panik pagi tadi”. Akupun ikut tersenyum. Hari-hari berikutnya, aku jalani dengan tenang. Bangun lebih petang dari biasanya kemudian membuka buku dan mengerjakan soal. Karena waktu pagi adalah waktu yang mudah untuk menyerap materi.
Setelah selesai Ujian Nasional, aku isi hari-hariku dengan berdoa dan berusaha. Aku mencari info-info beasiswa agar mempermudah jalanku menuju Perguruan Tinggi lebih terbuka. Sampai tiba saatnya pengumuman. Kedua senjata ampuhku kini terbalaskan dengan mendapatkan siswa dengan nilai UN terbesar se-kabupaten. Kalimat syukur tak henti-hentinya keluar setelah Guru BK memberitahukan bahwa aku diterima salah satu Universitas teknik terbaik di negeri ini. Merantaupun jadi pilihan. Mamak meridhoi dan akhirnya aku brangkat. Mungkin momen pelepasan ini adalah moment termanis sepanjang sejarah hidupku. Aku salaman dan Mamak mengecup keningku sembari mengeluarkan kata-kata do’a. Yang paling teringat adalah “Jadi anak yang bermanfaat untuk sesamamu ya, Ru. “Kakak, kalo pulang bawakan Nisa coklat ya?” Nisa memegang tangaku, mendengakkan kepalanya kearahku. Aku tak tahan. Langsung ku peluk Nisa.
Setalah tiga setengah tahun kuliah di Universitas itu, sekarang aku menjadi alumninya. Aku menjadi alumni sebagai mahasiswa dengan lulusan tercepat dan peraih IPK tertinggi. Aku juga sempat memenangkan beberapa lomba tingkat nasional maupun Internasional. Mungkin karena do’a orangtua ku disana hingga menjadi seperti ini. Sehabis lulus ini, aku bertekat untuk bekerja di kota. Namun pikirku menolak, memberontak. Aku teringat kata-kata Bapakku dahulu. Aku berfikir sejenak. Memandang surat lamaran kerja yang ada ditangan. “kalau aku bekerja disini, mungkin kampungku akan lama berkembang kembali terlintas pikiran seperti itu. Percuma saja gelarku tinggi jika aku belum bermanfaat untuk sesama. Lebih baik aku manfaatkan ilmuku yang sudah ada dan menerapkannya di kampungku. Pemikiran seperti itu muncul kembali. Akhirnya aku putuskan untuk pulang ke kampung halaman. Tak ada perubahan yang cukup signifikan yang aku lihat. Manis asri. Pemandangannya pun elok. Aku melepas rindu disini. Bertemu Mamak dan si Nisa adik kecilku yang tetap manis. Ada yang cukup memperhatinkan, orang desa cenderung tidak mau memanfaatkan yang ada sehingga banyak yang menganggur. “Bagaimana kalo aku buka lapangan pekerjaan saja disini, kasihan orang sini, butuh bimbingan untuk maju”. Untuk kesekian kalinya terlintas pikiran cemerlang. Baiklah, aku akan membangun industri padat karya dan produksi rumah tangga untuk masyarakat sekitar sini agar mereka bisa usaha dan akhirnya sejahtera. Dan untunglah, usahaku ini sukses. Akhirnya terlontar satu kalimat dari Mamak “Mamak bangga punya anak sepertimu, Aru”.
Hampir 5 tahun aku menekuni bidang ini, demi memajukan masyarakat dikampungku. Tiba-tiba, di pagi itu, aku ingat sekali hari itu adalah hari Rabu bulan Januari, ditemani rintikan hujan, datang seorang wanita yang anggun nan cantik mengetuk pintu kerjaku. Aku mempersilahkannya masuk dan duduk didepanku. Ia ingin melamar dibagian akuntan atau keuangan. Setelah aku lihat biodata pribadinya, ternyata dia adalah Muti, pacarku dahulu. “Ya Tuhan, cantik sekali kamu Muti”. Aku bergumam dalam hati, tak berani berkata langsung. “Baiklah, boleh perkenalan dulu?” Tanyaku untuk mengawali percakapan. “Baik Pak, Saya Muti Damayanti, Saya sudah lulus dari Program Studi Akuntansi dan Saya ingin melamar pada posisi Akuntan atau keuangan pada instansi Bapak”. Jawab dia tangkas. “Oo Muti, baiklah, perkenalkan Saya Damar Aru…..”. Belum selesai memperkenalkan diri, tiba-tiba Muti memotong, “Aru? Kaukah pacar SMA ku dulu?” ia meluruskan punggungnya, tanda penasaran. “Rupanya kamu masih ingat denganku, Mut” Aku balas dengan senyum. Kemudian kami berpelukan disana. Bukannya wawancara, kami malah bercerita panjang lebar tentang pengalaman semasa lulus SMA. Kami ingat betul, Aku menyudahi hubungan dengan Muti ketika bulan Januari dan saat ini kami dipertemukan kembali atas seizing Tuhan dibulan Januari. Dan kami memutuskan untuk menikah dibulan Januari tahun depan. Tuhan, indah-Nya rencanamu.
3 tahun kemudian, aku sudah menggendong satu anakku setelah menikah dengan Muti. Aku sadar, masa laluku memang gelap, tak seindah sekarang. Tapi aku paham betul, bahwa perubahan datang dari diri sendiri, bukan orang lain. Aku tak akan bisa merubah kampungku, sebelum aku merubah diriku sendiri. Aku menikmati proses yang selama ini aku jalani. Kampungku kini semakin tertata, pengangguran jauh menurun dengan adanya industri yang ku buat, dan tingkat pendidikan juga ikut naik. Inilah aku. Aku adalah Aru, pemuda dengan semangat membara dan siap bertekad untuk memajukan bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen 1 : Kenangan Bulan Januari

Wazaaaaappp... Apa kaabbss? Jadi, karena cerpen saya ini gagal juara disuatu perlombaan, akhirnya saya posting saja disini. Kayaknya meman...