Wazaaaaappp... Apa kaabbss? Jadi, karena cerpen saya ini gagal juara disuatu perlombaan, akhirnya saya posting saja disini. Kayaknya memang ga jelas deh cerpennya :( yaudalah langsung aja. Semoga klean terhibur yaa!
Kenangan Bulan Januari
Tak
terasa mentari sudah terbit di sebelah jendela usam itu. Ayam jago berjengger merah pun berkokok
dengan suara yang lantang didalam sangkarnya. Ketika air dari langit mulai
turun dalam bentuk embun membasahi dedaunan yang hijau. Gemersik ranting pohon beringin
disebelah rumah Pak Jo pun terdengar hampa bak dihutan belantara. Rupanya jam
dinding bulat berbackround logo
Manchester United itu menunjukkan jarum pendeknya ke angka 7. “Oh My God! bakalan telat nih”. Aku
bergegas mengambil kunci motor yang biasa tersimpan diatas kulkas. Mandi dan
parfum pun tak ku sentuh. Jangankan mandi, cuci muka saja aku tak sempat. Hanya
baju putih abu berdasi dan sepatu tanpa kaos kaki. “Sayang nanti jemput aku di lampu merah biasa ya”. Sebuah pesan
singkat dari pacarku lewat Line. Ketika aku buka lagi, pesan itu dikirim pukul
06.30. Aku tak berpikir panjang. Langsung saja aku tangcap gas ke sekolah. Ternyata,
semua siswa disana sedang menekuk tangannya tanda hormat ke bendera, sembari
ada backsound khas hari Senin.
Hari
ini semua yang datang terlambat batang hidungnya akan diperlihatkan dihadapan
semua siswa, aku salah satunya. Ini bukan pertama kalinya aku berada diarah
yang bersebrangan dengan siswa lain, karena aku adalah siswa langganan yang berdiri
dibarisan yang berbeda. Masuk ke ruang BK adalah agenda rutin bulanan. Entah,
dalam sebulan pasti aku mampir ke
ruang BK. Semenjak masuk SMA Aku menjadi terkenal dikelas, bukan karena
kecerdasanku, tapi karena kenakalanku. Bahkan namaku menjadi buah bibir para
guru dikantor. Aku dan pacarkuu selalu berangkat dan pulang sekolah bersama,
sambil menaiki motor Honda Klasik khas tahun 70-an. Aku memang suka
barang-barang antik, termasuk motor. Semalam akupun begadang hanya demi
membersihkan karbu, mengecat body motor, dan mengelas stang. Alhasil, esoknya
aku terlambat. Huh, benar-benar hari yang sial.
Senin
adalah hari yang menyeramkan bagiku. Ditambah ada Pak Jamal, Guru terkiller disekolah ini. Kepalanya
berkilau, kacamata bulat dengan tebal hampir 1cm, serta balpoin yang selalu
menempel disaku kanan adalah ciri khasnya. Beliau selalu menunjuk untuk
menjawab pertanyaan kepada siapa saja yang nunduk tanda ngantuk. “Somad, apa perbedaan dari karnivora dan herbivora?”
Tanya Pak Jamal kepadaku. Begitulah Pak Jamal, sering memanggil muridnya
dengan nama lain. “Karnivora pemakan
daging pak, herbivora pemakan tumbuhan”. Sebenarnya aku tau, hanya saja aku
malas, jadilah mengantuk. Sekolahku bukanlah sekolah terbaik dikampung ini.
Akupun masuk kesini karena nilai ketika SMP ku pas-pasan dan tak memadai untuk
masuk ke SMA Favorit. Ketika aku baru masuk ke SMA ini, ibu menasehatiku dengan
begitu dalam, “Ru, Mamak sekolahkan Aru
disini agar jadi anak yang pintar. Dimanapun sekolahnya, kalo kita tidak
semangat dan rajin, pastilah biasa saja. Aru sekarang jadi harapan Mamak. Bapak
sudah meninggal, Mamak sudah renta, Aru punya tanggungan Nisa yang masih SD”. Pesan
itu seolah masuk telingan kanan dan keluar telinga kiri. Dari kelas 1 sampai
kelas 3 sekarang, kerjaanku hanya malas-malasan, pacaran, dan keluar masuk
ruang BK. Memasuki persiapan ujian nasional, sekolahku mengadakan jam tambahan
untuk kelas 3 sampai sore. Waktu itu bulan Mei, sedangkan Ujian Nasionalnya
bulan Juli.
Malam
itu, gerimis membasahi ranting-ranting pohon. Angin menyapa melalui sela-sela
rumah, menyapu debu-debu. Kami bertiga dirumah saat itu sedang mengerjakan
tugas masing-masing. Aku membersihkan motor yang terkena tetesan hujan, Nisa
sedang asik dengan atlasnya yang baru dibeli, dan Mamak sedang melipat baju. “Aru,
kemari” Panggil Mamak. “Iya Mak”, aku
duduk bersimpuh dihadapannya. “Mamak
berpesan kepada Aru, cukuplah bermalas-malasannya. Mamak tidak mau Aru berhenti
sampai SMA. Dulu, Bapak hanya tamatan SMP, sedangkan Mamak SD pun tidak lulus”.
Nasehatnya dengan halus. Sedangkan aku hanya menunduk saja. “Sebentar lagi Ujian Nasional, ini adalah
jalan penentu kelulusan dan pendidikan selanjutnya bagi Aru. Mamak ingin punya
anak yang bisa membanggakan keluarga dan desa”. Tambah Mamak. Saat itu
entah mengapa, batu dihati ini serasa meleleh seperti es terkena sinar. Aku
yang tadinya sangat keras dan tidak penurut, mendadak berkacaka-kaca. “Ya Tuhan, mengapa aku baru sadar sekarang?”
Gumamku dalam hati. “Iya Mak, maafkan
Aru sudah jadi anak yang malas. Aru ingin kuliah dan sukses Mak”. Aku tak
sanggup lagi, air mataku jatuh. Aku tak berani menatap wajah Mamak. Tangan
lembutnya menyapa kepalaku, mengelusnya perlahan. “Gapapa nak, semuanya belum terlambat. Jangan menyerah untuk menjadi
lebih baik”. Mamak mengambil wajahku, menghadapkan ke wajahnya, dan
menghapus air mataku.
Besoknya,
setelah kejadian mengharukan tadi malam, semacam ada petir yang menyambar hati
ini. Semangatku melonjak, motivasiku naik drastis. Bahkan aku berangkat sekolah
lebih pagi dari sebelumnya. Petang hari ku isi dengan membaca. Siang dan
sorenya ku pakai untuk refreshing dan memancing. Aku habiskan malam-malamku
dengan membaca buku paket pelajaran dan latihan mengerjakan soal serta persiapan
untuk Ujian Nasional. Pak Jo, tetangga Mamak yang melihat aku lebih semangat
dari sebelumnya, tiba-tiba memberiku sebuah buku yang amat sangat menambah
motivasiku. “Motivasi hadir ketika
semangat menyatu dengan doa”. Aku sangat suka kalimat dihalaman 65 dari
buku itu. Semua dari buku ini menggambarkan menjadi manusia yang bermanfaat.
Bahkan tak terasa hampir seharian aku membaca buku ini. Isinya aku hayati,
nilainya aku amalkan, dan kandungannya seolah menyatu dengan darahku.
Masih dibulan yang sama, aku tinggalkan
semua teman-teman yang mengajakku kepada keburukan. “Aru, kamukan tau kita hobi bolos saat jam kelas, kok kamu ga ke
markas?”. Tanya Rudi kepadaku saat bertemu dikantin. “Maaf Rud, tapi ini sudah bukan saatnya untuk santai. Kita sudah kelas
3 bukan?” Jawabku dengan senyum. “Alah
sudahlah Ru, jangan terlalu serius. Santai aja!”. Rudi menepuk pundakku. “Aku santai kok, santai menjalani proses
menuju kebaikan”. Aku mengakhiri pembicaraan tersebut dan masuk ke kelas.
KRING KRIING….
Bel
khas tanda pulang berbunyi. Seperti biasanya, Honda 70an itu menemani
perjalanan pulangku dan pacarku. Waktu itu adalah bulan Januari akhir, hari
dimana siswa SMA kembali dari masa liburannya. Hari ini aku sudah mantap ingin
meninggalkan pacarku. Aku memutuskan untuk menyudahi hubungan ini. Aku rasa ini
waktu yang tepat untuk berubah dan menjadi harapan Mamak. “Mut, aku ingin bicara sesuatu”. Ucapku diteras depan rumah Muti. “Iya Aru ada apa?”. Jawabnya. “Begini, apa pendapatmu tentang hubungan
kita? Apa kamu tidak bosan dengan ku selama ini?”. Dahiku berkeringat,
grogi. “Ngomong
apa kamu ini? kamu gapapa kan?”. Ia mengerutkan dahinya, bingung. “Aku.. ingin kita berhenti dari hubungan
ini”. Ucapku terbata-bata. “Aku ingin
belajar. Belajar mencintaimu dengan benar. Aku bosan menjadi seperti ini”. Tambahku.
“Tapi kenapa kita harus putus?” Muti
menatapku dengan dalam. “Seperti halnya
lebah, ia hinggap ditempat yang baik dan mengambil sesuatu yang baik. Aku
meninggalkanmu bukan tanpa alasan. Aku
ingin memanfaatkan waktuku dengan baik. Tak apa, tinggalkan lah aku perlahan. Aku
akan kembali kepadamu, jika Tuhan berkehendak. Biar jarak ini yang memisahkan
kita, Biar sakit ini untuk sementara waktu, karena lukapun ada sembuhnya.” .
Ketika aku mengucapkan itu, seketika Muti menjatuhkan darah putihnya, ia masuk
ke dalam tanpa berkata apapun.
Dinginnya
suasana pagi hari kembali menyapa.
Namun entah mengapa, kelopak mata ini berat sekali untuk terangkat. Seperti
mengangkat beban 1 ton. Bahkan lebih. Begitu aku teringat aku ingin kuliah, entah mantra magis
apa yang membuat mata ini mau terbuka. Mencoba mengangkat beban 1 ton itu.
Ternyata benar, otak akan sinkron ketika aku memikirkan hal-hal penting.
Mamakpun
sudah menyuruh aku untuk segera bangun. Jam berlogo Manchester United itupun menunjukkan pukul 5.50. Ini hari Senin, hari pertamaku UN. Langsung saja aku
bergegas pergi ke kamar mandi. Sedangkan UN dimulai pukul 7.00. Waktu dari rumah ke sekolah sekitar 35 menit. Setelah sampai disekolah, aku bingung setengah mati.
Sekolah
masih sepi. “Ada apa ini? Apakah ini hari
minggu?”
Gumamku dalam hati. Aku masuk kelas, mempersiapkan alat tulis. Ternyata, jam
dikelas baru menunjukkan pukul 06.00. Padahal di jam itu aku baru berangkat.
Aneh.
Setelah
melewati UN dihari pertama, aku bercerita kepada Mamak. “Mak, Aru bisa mengerjakan soal Ujian Nasional tadi. Soalnya hampir
sama seperti yang Aru pelajari tadi malam.” Ceritaku. “Aru tidak terlambat kan?” Tanya Mamak. “Tidak, Mak. Justru tadi Aru orang yang pertama datang”. Tambahku. “Syukurlah, Mamak mempercepat jam dikamar
Aru 30 menit” Ia berkata sambil tertawa. “Mamak ada-ada saja, Aru sampai panik pagi tadi”. Akupun ikut
tersenyum. Hari-hari berikutnya, aku jalani dengan tenang. Bangun lebih petang
dari biasanya kemudian membuka buku dan mengerjakan soal. Karena waktu pagi
adalah waktu yang mudah untuk menyerap materi.
Setelah
selesai Ujian Nasional, aku isi hari-hariku dengan berdoa dan berusaha. Aku
mencari info-info beasiswa agar mempermudah jalanku menuju Perguruan Tinggi
lebih terbuka. Sampai tiba saatnya
pengumuman. Kedua senjata ampuhku kini terbalaskan dengan mendapatkan siswa
dengan nilai UN terbesar se-kabupaten. Kalimat syukur tak henti-hentinya keluar
setelah Guru BK memberitahukan bahwa aku diterima salah satu Universitas teknik
terbaik di negeri ini. Merantaupun
jadi pilihan. Mamak
meridhoi dan akhirnya aku brangkat. Mungkin momen pelepasan ini adalah moment
termanis sepanjang sejarah hidupku. Aku salaman dan Mamak mengecup keningku sembari mengeluarkan kata-kata
do’a. Yang paling teringat adalah “Jadi
anak yang bermanfaat untuk sesamamu ya, Ru”. “Kakak,
kalo pulang bawakan Nisa coklat ya?” Nisa memegang tangaku,
mendengakkan kepalanya kearahku. Aku tak tahan. Langsung ku peluk Nisa.
Setalah tiga setengah tahun kuliah di Universitas itu,
sekarang aku menjadi alumninya. Aku menjadi alumni sebagai mahasiswa dengan
lulusan tercepat dan peraih IPK tertinggi. Aku juga sempat memenangkan beberapa lomba tingkat nasional maupun Internasional. Mungkin karena do’a orangtua
ku disana hingga menjadi seperti ini. Sehabis lulus ini, aku
bertekat untuk bekerja di kota. Namun pikirku menolak, memberontak. Aku teringat kata-kata Bapakku dahulu. Aku berfikir sejenak. Memandang surat lamaran kerja
yang ada ditangan. “kalau aku bekerja
disini, mungkin
kampungku akan lama berkembang”
kembali terlintas pikiran seperti itu. “Percuma saja gelarku tinggi jika
aku belum bermanfaat
untuk sesama. Lebih baik aku manfaatkan ilmuku yang sudah ada dan
menerapkannya di
kampungku”. Pemikiran seperti itu muncul kembali. Akhirnya aku putuskan untuk pulang ke kampung halaman.
Tak ada perubahan yang cukup signifikan yang aku lihat. Manis asri.
Pemandangannya pun elok. Aku melepas rindu disini. Bertemu Mamak
dan si
Nisa adik kecilku yang tetap manis.
Ada yang cukup memperhatinkan, orang desa cenderung tidak mau memanfaatkan yang
ada sehingga banyak yang menganggur. “Bagaimana
kalo aku buka lapangan pekerjaan saja disini,
kasihan orang sini, butuh
bimbingan untuk maju”.
Untuk kesekian kalinya terlintas pikiran cemerlang. Baiklah, aku akan membangun
industri padat karya dan produksi rumah tangga untuk masyarakat sekitar sini
agar mereka bisa usaha dan akhirnya sejahtera. Dan untunglah, usahaku ini
sukses. Akhirnya terlontar satu kalimat dari Mamak “Mamak bangga punya anak sepertimu, Aru”.
Hampir
5 tahun aku menekuni bidang ini, demi memajukan masyarakat dikampungku.
Tiba-tiba, di pagi itu, aku ingat sekali hari itu adalah hari Rabu bulan
Januari, ditemani rintikan hujan, datang seorang wanita yang anggun nan cantik
mengetuk pintu kerjaku. Aku mempersilahkannya masuk dan duduk didepanku. Ia
ingin melamar dibagian akuntan atau keuangan. Setelah aku lihat biodata
pribadinya, ternyata dia adalah Muti, pacarku dahulu. “Ya Tuhan, cantik sekali kamu Muti”. Aku bergumam dalam hati, tak
berani berkata langsung. “Baiklah, boleh
perkenalan dulu?” Tanyaku untuk mengawali percakapan. “Baik Pak, Saya Muti Damayanti, Saya sudah lulus dari Program Studi
Akuntansi dan Saya ingin melamar pada posisi Akuntan atau keuangan pada
instansi Bapak”. Jawab dia tangkas. “Oo
Muti, baiklah, perkenalkan Saya Damar Aru…..”. Belum selesai memperkenalkan
diri, tiba-tiba Muti memotong, “Aru?
Kaukah pacar SMA ku dulu?” ia meluruskan punggungnya, tanda penasaran. “Rupanya kamu masih ingat denganku, Mut”
Aku balas dengan senyum. Kemudian kami berpelukan disana. Bukannya wawancara,
kami malah bercerita panjang lebar tentang pengalaman semasa lulus SMA. Kami
ingat betul, Aku menyudahi hubungan dengan Muti ketika bulan Januari dan saat
ini kami dipertemukan kembali atas seizing Tuhan dibulan Januari. Dan kami
memutuskan untuk menikah dibulan Januari tahun depan. Tuhan, indah-Nya
rencanamu.
3 tahun kemudian, aku sudah
menggendong satu anakku setelah menikah dengan Muti. Aku sadar, masa laluku
memang gelap, tak seindah sekarang. Tapi aku paham betul, bahwa perubahan
datang dari diri sendiri, bukan orang lain. Aku tak akan bisa merubah
kampungku, sebelum aku merubah diriku sendiri. Aku menikmati proses yang selama
ini aku jalani. Kampungku kini semakin tertata, pengangguran jauh menurun
dengan adanya industri yang ku buat, dan tingkat pendidikan juga ikut naik.
Inilah aku. Aku adalah Aru, pemuda dengan semangat membara dan siap bertekad
untuk memajukan bangsa.